Tampilkan postingan dengan label internet. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label internet. Tampilkan semua postingan

Benarkah Harapan Ada Pada Generasi Digital?

,
.....Just Want to Share with You: Ini artikel saya yang dimuat di Harian Kontan, 10 November 2009. Semoga sahabat bisa memberikan komentar....
Dalam sebulan ini, setidaknya kita dihebohkan oleh tiga video mesum amatir yang diperankan remaja di beberapa daerah. Di Banyuwangi muncul video berlabel “anak kost” yang diduga diperankan oleh sepasang remaja SMP. Tak lama berselang, di Nganjuk dan Surabaya muncul video bergenre serupa yang juga pemerannya diduga masih berusia sekolah dan mahasiswa.

Peristiwa ini memang kalah mentereng oleh kedigdayaan drama “cicak versus buaya”. Tapi, bukan berarti isu ini tak kalah penting dibandingkan perseteruan KPK-Polri. Hadirnya tiga video mesum ini jelas menjadi ironi dalam momentum kebangsaan Sumpah Pemuda dan Hari Pahlawan.

Kita tahu, selepas pertengahan 1990an, internet dan telepon genggam mengalami perkembangan signifikan. Perkembangan ini kemudian melahirkan generasi baru yang lazim disebut generasi 2.0. atau generasi digital. Punggawa generasi ini jelas memiliki laku kehidupan berbeda dengan generasi sebelumnya, ditandai dengan begitu intensnya mereka bergumul dengan internet.

Dengan seremoni dua hari besar ini, masyarakat menaruh harapan besar di pundak generasi digital, untuk merevitalisasi perannya sesuai kemajuan teknologi. Mereka inilah yang kelak menjadi tombak perubahan sosial bangsa agar menjadi pemenang dalam dunia yang borderless akibat digitalisasi informasi. Sayangnya, harapan kerumunan bangsa ini sedikit terganjal. Kembali maraknya video-video mesum amatir di pelbagai daerah sedikit banyak melahirkan riak-riak kecemasan dalam benak bangsa ini. Mestikah kita menaruh harapan pada generasi yang justru menjadi devian-devian teknologi?


Potensi penyimpangan teknologi semacam ini sudah lama diendus para pakar internet & society di dunia. M. Gigi Durham dalam studinya bertajuk Lolita Effect menyatakan bahwa internet dapat merangsang para remaja untuk melabrak batas-batas privasinya. Dengan tegas Durham menyatakan, “It is pretty routine these days for girls to post provocative pictures of themselves online”. Hal ini terjadi guna memantik popularitas dirinya, yang akhirnya membikin mereka seolah-olah tak punya rasa malu (shameless).

Don Tapscot dalam Grown Up Digital berpandangan terbalik dengan Durham. Menurutnya, masalah privasi memang terkadang mengemuka, tapi generasi digital justru menjadi avant garde dalam memecahkan persoalan masyarakat. Generasi ini merupakan generasi paling community-based oriented, yang tak lekas menjadi makhluk introvert.

Di negeri ini banyak generasi digital yang mampu berkreasi dalam aras positif. Itu ditandai dengan bermunculannya technopreneur-technopreneur muda yang menkonversi teknologi menjadi ladang pekerjaan baru. Atau bergiatnya generasi muda sebagai garda kekuatan massa (people power) melalui aktivisme blogging.

Bobroknya Pemahaman

Sayangnya, kreasi itu berjalan beriringan oleh “kreasi” dari kutub lain. Pada sekitar 2004, Indonesia dibanjiri oleh arus video-video mesum amatir yang sebagian besar dibuat generasi muda. Hingga hal tersebut melahirkan gerakan “Jangan Bugil di Depan Kamera”. Di tangan mereka, internet dan telepon genggam menjadi senjata untuk menyalurkan eksistensi negatif demi meraih pseudo-popularitas dirinya. Sejak itu, ratusan video porno amatir datang silih berganti dan bertahan hingga kini. Akibatnya Indonesia menjadi salah satu negara yang cukup intens menghasilkan video porno amatir.

Ragam deviasi teknologi yang dilakukan generasi digital ini menjadi kulminasi atas bobroknya pemahaman massa atas kemajuan teknologi. Internet yang bergerak tunggang-langgang telah melahirkan pilihan berkelimpahan (abundant choices), mulai dari yang pilihan positif hingga berujung pada titik ekstrem.

Bagi generasi muda di Indonesia, pilihan yang berkelimpahan ini justru membikin mereka bingung. Mereka masih tergagap untuk dapat mengekploitasi teknologi sesuai dengan ragam selera, dan bakatnya. Akibatnya, mereka cenderung berpikir instan dengan menggali eksistensinya dalam ragam video porno amatir, guna menggapai popularitas instan yang cepat menukik kembali.

Padahal, jika lebih jeli, pilihan yang lebih bijak untuk mengail popularias terbentang tak terkira. Andrew Darwis misalnya, ia dengan jeli membangun dan mengelola situs komunitas, Kaskus.us. Situs komunitas yang genap berusia 10 tahun pada 6 November ini, telah menjadi fenomena dalam laku kehidupan digital tanah air.

Kaskus menjadi forum yang sangat bermanfaat mulai dari diskusi sosial-politik, edukasi ataupun sekadar bergosip tentang hal yang remeh temeh. Selain itu, melalui Forum Jual Beli (FJB), Kaskus banyak membantu para produsen kecil dalam memasarkan produk-produknya hingga bisa sampai ke tangan konsumen. Kini, situs bikinan anak negeri ini telah menjadi salah satu komunitas paling aktif di dunia.

Karenanya, kini, menjadi saat yang tepat bagi generasi digital negeri ini untuk mengubah pilihanya ke arah yang lebih kontributif. Kecuali jika kita rela hanya duduk sebagai penonton, sementara di belahan dunia lain, mereka berlarian.

Credit photo by sortofbutnotreally on Flickr
Read more

"Gan Marketing": Memasarkan di Kaskus

,

Kaskus, siapa sih yang tidak mengenal situs komunitas yang satu ini? saya yakin setiap orang yang pernah menjelajahi dunia maya pastinya sudah mengetahui keberadaan dan eksistensi situs yang satu ini, terutama kita-kita ini, orang Indonesia. Semenjak diluncurkan beberapa tahun silam, tepatnya pada tahun 1999, keberadaan Kaskus sudah menjadi fenomena tersendiri bagi perjalanan situs komunitas di belantika dunia maya, khususnya Indonesia. Banyak sekali hal-hal yang dapat kita temukan di Kaskus, mulai dari info terkini, jual-beli barang, berita populer, dan tentunya juga pemasaran. dalam hal bisnis, cukup banyak orang-orang ataupun perusahaan yang singgah untuk memasarkan produk-produk mereka di situs ini (dengan membuka “lapak” atau pasang iklan) atau hanya sekadar membuka thread agar dapat berinteraksi dengan masyarakat luas mengenai produk mereka.
 
Banyaknya orang ataupun perusahaan yang mencoba untuk memasarkan produk mereka di situs ini bukanlah tanpa sebab. Kaskus merupakan situs komunitas maya yang terbesar di Indonesia dengan jumlah member yang mencapai lebih dari 800 ribu orang dan hingga saat ini diperkirakan sudah mencapai lebih dari 75 juta posting-an yang dikirimkan. Selain itu, sebagaimana yang dilansir oleh situs alexa.com, Kaskus menempati urutan ketujuh situs yang paling sering dikunjungi oleh masyarakat Indonesia, dengan jumlah page view yang mencapai 3.500.000 per harinya. Meskipun pada awalnya Kaskus terkenal dengan citra negatifnya sebagai media underground dan situs porno (terutama karena adanya forum BB-17 dan Fight Club yang sekarang sudah dihapus), namun seiring dengan diberlakukannya UU ITE, maka situs ini pun menjadi lebih “halus” dan lebih diterima oleh masyarakat luas. 
Dengan besarnya peluang pasar yang terdapat di Kaskus, maka tak heran apabila Kaskus juga menjadi salah satu media Viral marketing yang paling efektif di Indonesia. Yang membuat viral marketing di Kaskus menjadi unik dan berbeda dengan yang lainnya adalah bahwa para marketer yang hendak berkontribusi di Kaskus, mau tak mau harus menyesuaikan dengan “atmosfer” yang ada di Kaskus. Maka tak heran apabila kita menjumpai orang atau perusahaan yang menawarkan produknya menggunakan bahasa komunikasi ala Kaskus. Kata-kata seperti “barangnya bagus gan”, “recommended seller”, “sundul lagi”, dan lainnya seperti sudah menjadi suatu keharusan apabila ingin membuka atau bergabung di suatu thread. Jarang sekali kita temui cara berkomunikasi yang sifatnya formal dalam forum Kaskus (kecuali memang ada ketentuan dalam forum tersebut) dan inilah yang membuatnya unik.


Thread-thread di Kaskus juga menjadi media Word of Mouth yang terbilang sangat efektif dan efisien, baiknya yang sifatnya negatif ataupun positif. Cukup banyak seller-seller produk yang menjadi “highly recommended” atau malah “not recommended” untuk dibeli produknya akibat dari WoM di forum-forum Kaskus. Saya pribadi pernah menemukan suatu toko yang benar-benar sangat direkomendasikan oleh para pengguna Kaskus pada suatu forum dan pengaruhnya ternyata sangat besar bagi toko tersebut. Banyak orang yang kemudian mengunjungi toko tersebut atas banyaknya rekomendasi dan kemudian terus merekomendasikannya kembali kepada orang-orang lainnya. Sebaliknya, ada juga toko yang terang-terangan dilarang oleh para user forum untuk dikunjungi dan membeli barang di situ. Hasilnya jelas, toko tersebut benar-benar berkurang pelanggannya dan cenderung sepi.


Saya pribadi juga cukup kaget dengan dampak dari WoM yang ada di Kaskus yang ternyata sangatlah signifikan. Hal ini tentu saja sangat berbeda dengan Wom ataupun viral marketing yang ada pada situs jejaring sosial ataupun social media seperti Facebook, atau Twitter. Menurut saya pribadi, Kaskus memang cukup sesuai dengan pribadi kebanyakan orang-orang Indonesia sehingga wajar kalau WoM di Kaskus lebih cepat menyebar daripada situs-situs lainnya di Indonesia yang kebanyakan dimiliki dan dirancang oleh pihak asing. Jadi, bukan tidak mungkin suatu saat nanti Kaskus akan mampu untuk mengalahkan kedigdayaan situs semacam Facebook atau Friendster di Indonesia. Mantap gan!!!



Read more

Dangdut 2.0

,
Apakah Sahabat tahu siapa itu Mela Barbie, Lina Geboy, atau Hesti Bohay? Sahabat mungkin malah bertanya, siapa mereka? Memang, mereka bukanlah selebritas terkenal bak Manohara. Tapi, jauh di belahan lain mereka adalah para primadona yang ditunggu performance baik secara live atau pun video-nya. Bagi Sahabat yang belum terlalu faham, mereka adalah para penyanyi kelas hajatan, atau acara kemasyarakatan di kampung-kampung. Namun jangan kira, mereka justru menjadi penyanyi dangdut populer di YouTube. Tengok saja beberapa video mereka telah di view ratusan ribu kali. Sekedar contoh, video Mela Barbie yang berjudul “Mencari Mangsa” telah di view sekitar 282.685 (buktikan di sini). Lebih dari itu, banyak video mereka yang telah merangsek, merebut perhatian khalayak YouTube. Pertanyaannya, mengapa mereka menjadi begitu populer.

Argumen pertama pasti karena mereka adalah penyanyi dangdut yang seksi, dan menjual goyangannya. Itu tak dapat dipungkiri. Masalahnya, mengapa mereka begitu populer di dunia maya padahal mereka berdiam entah di dunia antah berantah mana?

Menurut Chris Anderson (2006), inilah fenomena Long Tail yang dibikin oleh kemajuan internet khususnya media-media web 2.0. Masyarakat terkena sindrom DIY (Do It Yourself). Alih-alih mengiba belas kasihan pada label rekaman, atau production house, mereka justru membikinnya sendiri. Berbekal handycam, atau kamera handphone, masyarakat kini menjadi produsen amatir yang justru membikin produk semakin berlimpah. Inilah kekuatan pertama Long Tail: Demokratisasi Sarana Produksi.

Penampilan Mela Barbie dkk jelas tak akan disiarkan oleh stasiun TV mainstream. Bisa-bisa stasiun TV tersebut terkena pencekalan. Sebagian pencinta dangdut pasti terkena “dahaga” kronis akibat kekurangan sajian itu. Tapi, semenjak YouTube hadir, semua itu sedikit banyak terminimalisir. Banyak production house-production house (PH) amatir yang secara militan mendokumentasikan penampilan si biduan panggung tersebut. Dari hajatan ke hajatan, mereka selalu ada untuk memuaskan dahaga Anda akan musik Dangdut, karena dengan internet everyone can be a producers.

Mela Barbie dkk, telah menjadi bukti luar biasanya Long Tail. Ia membikin segala hal menjadi tersedia. Inilah era dimana pilihan menjadi begitu tak terbatas. Semua kebutuhan Sahabat, saya yakin akan dapat terpenuhi. Sahabat butuh buku-buku lawas? Sahabat tinggal ubek-ubek saja Amazon.com. Sahabat butuh musik-musik lawas? Sahabat tinggal ubek-ubek iTunes. Atau sahabat butuh video-video dangdut koplo seperti Mela Barbie dkk? Sahabat tinggal ubek-ubek saja YouTube. Semuanya telah tersedia berkat internet.

Kini, kelangkaan barang bukan lagi penghalang dalam mekanisme supply and demand. Kelangkaan justru beralih dari barang ke perhatian (attention). Ya, saking tak terbatasnya pilihan, maka yang langka justru perhatian untuk memilah pilihan-pilihan mana yang benar-benar sesuai dengan kebutuhan kita.

Hal tersebut pada awalnya menjadi kritik terhadap para pengusung Long Tail. Barry Shcwatz dalam Paradox of Choice (2006) misalnya, mengungkapkan bahwa pilihan berlebih justru bakal “melumpuhkan” masyarakat. Alih-alih mendapatkan apa yang dibutuhkan, masyarakat justru akan putus asa dan tidak jadi membeli.

Namun, para pengusung Long Tail memberikan solusi bahwa pilihan tak terbatas mesti dipadankan dengan filter untuk menyaring berbagai pilihan tersebut agar sesuai dengan kita. Inilah yang dapat menjelaskan kenapa video-video amatir Mela Barbie dkk merebut banyak perhatian. YouTube jelas telah menerapkan mekanisme filter yang akurat. Mulai dari pencarian keyword hingga filter related videos ketika kita membuka salah satu video. Filter inilah yang kemudian membantu kita merambah dunia bawah tanah, laiknya dunia Mela Barbie dkk.

Karenanya, jika banyak orang beranggapan Dangdut kini telah mulai menyentuh azalnya, Sahabat mesti memikirkan ulang. Internet dan mekanisme Long Tail-nya justru membikin itu tetap hidup dalam kerumunan yang khusus (niche). Mereka akan hidup dan terus hidup seiring tunggang-langgangnya zaman. Saya pun berani berkelakar: Dangdut takkan pernah mati, karena dangdut telah berevolusi menjadi Dangdut (versi) 2.0.!

Source Pic: Mela Barbie @ Facebook.

Read more

Membela Manusia

,
Dalam mekanisme kehidupan modern seperti saat ini, Ibu Prita Mulyasari dan keluarganya adalah tipikal keluarga menengah yang menjadi ujung tombak kontrol sosial dalam relasi perusahaan dengan konsumen. Ibu Prita mungkin termasuk ke dalam sebagian kecil keluarga yang memiliki akses terhadap teknologi-informasi khususnya internet. Mereka inilah yang menjadi pilar-pilar pengontrol dalam aktivitas perlindungan konsumen di Indonesia.

Saya tergerak menuliskan ini setelah prihatin atas apa yang menimpa Ibu Prita dalam kasusnya dengan Rumah Sakit (RS) Omni Internasional. Sebagai konsumen modern, Ibu Prita jelas memiliki hak untuk meluncurkan unek-uneknya atas perawatan RS. Omni kepadanya. Apalagi, menurut pengakuannya, ia sudah berulang kali meminta penjelasan dan komplain ke pihak Omni namun tak jua mendapat respon yang signfikan. Ia kemudian menuliskan email yang berisi curhat atas perlakuan Omni kepadanya dan mengirimkannya ke beberapa email pribadi teman-teman terdekatnya.

Selanjutnya, Internet-lah yang membuat itu menyebar bak wabah kolera. Email Ibu Prita bak tsunami yang menerjang daratan. Meluas, hingga menjadi konsumsi publik kebanyakan. Omni kebakaran jenggot. Omni merasa telah dicemarkan nama baiknya. Sayangnya, Omni membalas itu dengan tidak elegan: memenjarakan Ibu Prita. Inilah ironi baru: di tengah-tengah kebangkitan konsumen justru represivitas perusahaan masih muncul.

Dalam textbooks pemasaran khususnya service marketing, konsumen berkecenderungan untuk menyampaikan komplain dalam tiga tindakan, yaitu memendamnya sendiri, menyampaikan komplain secara langsung kepada perusahaan dan meminta bantuan pihak ketiga. Pada konteks konsumen Indonesia, biasanya berkecenderungan untuk memendamnya sendiri, terdiam dalam solilokui yang panjang. Hal ini disebabkan oleh keengganan untuk melalui proses yang ribet ketika menyampaikan komplain. Pada sisi lain, pihak ketiga macam YLKI yang digadang-gadang menjadi tombak perlindungan konsumen pun seringkali terjebak pada rumitnya mekanisme penyampaian komplain. Walhasil, konsumen seringkali mendapat kesia-siaan belaka dari usahanya yang terbilang sukar tersebut.

Kini, dengan semakin membuminya Internet khususnya media-media Web 2.0., relasi konsumen dan perusahaan berubah signifikan. Sekat-sekat birokrasi yang selama ini menjadi penghalang, mulai luntur. Konsumen memiliki kuasa yang besar untuk menyampaikan komplainnya secara langsung. Dalam bahasa Seth Godin dalam Meatball Sundae: Is Your Markeing Out of Sync?, internet telah membikin tren baru dimana suara-suara konsumen semakin lantang untuk memperjuangkan hak-haknya.

Di negara-negara Barat yang tingkat melek internetnya sangat tinggi, hal tersebut benar-benar menjadi angin segar dalam mengontrol perilaku perusahaan. Konsumen di sana begitu mudahnya melakukan komplain kepada perusahaan misalnya hanya dengan menulis di blog atau menyampaikannya di forum-forum komunitas. Yang lebih ekstrem, banyak bermunculan situs-situs independen yang menjadi pengawas perilaku perusahaan, taruhlah Wall-Mart Watch atau E-Bay Sucks.

Pada konteks Indonesia, kita harus akui bahwa distribusi penggunaan internet belum semerata di sana. Makanya, orang-orang seperti Ibu Prita adalah ujung tombak perlindungan hak-hak konsumen di Tanah Air ini. Apa yang telah dilakukan Ibu Prita sungguh sangat mulia, mencerminkan karakter konsumen modern: melakukan kontrol sosial atas dasar pembelaan terhadap hak-hak konsumen sebagai manusia. Ibu Prita memilih untuk tidak memendam keluhannya seorang diri. Ia justru berbagi kepada kerabat dan sesamanya atas apa yang diterimanya agar kelak tidak terjadi korban serupa di masa datang.

Pada sisi lain, saya tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan Omni, terlebih ada embel-embel Internasional di belakangnya. Memenjarakan konsumen, saya pikir bukanlah karakter perusahaan yang modern. Dalam konstelasi marketing kontemporer, tindakan konsumen seperti yang dilakukan Ibu Prita, semestinya ditangani dengan memberikan klarifikasi, diskusi dan perundingan. Menurut Joseph Jeff, perusahaan mesti menceburkan diri ke dalam conversation yang dilakukan pelanggannya bukan malah melanggengkan represivitas terhadap konsumen.

Omni mestinya mencontoh apa yang telah eBay lakukan. Di saat eBay banyak dihujani kritikan dari masyarakat atas berbagai fraud dalam praktek bisnisnya, eBay justru giat merintis corporate blogging untuk menjalin conversation dengan pelanggannya. eBay tidak tanggung-tanggung meng-hire Richard Brewer-Hay—seorang pakar social media—untuk merancang dan mengelola blog berlabel eBay Ink. Dengan itu, eBay memberikan akses langsung kepada konsumen untuk memberikan komplain, saran ataupun masukan dalam hal praktek bisnis yang eBay lakukan. Melalui eBay Ink, komunikasi antara pengguna dan manajemen eBay dilakukan secara transparan dan tanpa sekat. Sederhananya: tidak ada dusta diantara kita.

Apa yang dilakukan eBay adalah penanganan komplain konsumen yang modern. Konsumen diletakan secara horizontal dengan perusahaan. Kini, bukan lagi era-nya vertical interaction, terlebih represivitas perusahaan. Karena kini, konsumen memiliki kuasa yang berlimpah untuk menghantam perilaku negatif perusahaan. Perusahaan tidak dapat seenaknya lagi melakukan praktek bisnisnya. Semuanya mesti jujur dan benar-benar menganggap konsumen sebagai “raja”.

Ibu Prita adalah wanita yang mulia. Mungkin ia kini dihujam penderitaan yang sangat atas perlakuan Omni. Tapi, percayalah kontribusinya pada dunia perlindungan konsumen tak dapat terbayar dengan apapun. Ia adalah pembela harkat-martabat konsumen sebagai manusia. Kita layak untuk terus membela Ibu Prita. Karena membela Ibu Prita pada galibnya membela kita sendiri sebagai manusia. Atas nama kemanusiaan, BEBASKAN IBU PRITA, SEKARANG JUGA!

Pic Credit by Chato B. Stewart @Flickr
Read more

Merangsang Kepedulian Konsumen Muda

,
All..ini adalah tanggapan saya atas merebaknya dendeng sapi yang ternyata dicampur daging babi beberapa waktu lalu. Artikel ini telah dipublikasikan oleh Harian Pikiran Rakyat (Bandung), Selasa (28/04)
----------------------------------
Merangsang Kepedulian Konsumen Muda
Oleh VERI NURHANSYAH TRAGISTINA

Beberapa hari lalu, Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) memublikasikan sejumlah merek dendeng sapi yang mengandung daging babi. Di negeri ini, isu dan kasus-kasus semacam itu sering termarginalkan isu-isu lain macam politik dan isu lainnya. Padahal, kasus-kasus demikian sering tampil dan berpengaruh besar terhadap masyarakat. Sebelumnya, kita dikejutkan oleh penemuan melamin dalam biskuit, bakso yang dicampur boraks, dan yang fenomenal adalah tampilnya produk tahu yang diawetkan dengan menggunakan formalin.

Dalam ilmu pemasaran, sebenarnya konsumen adalah pihak yang digelandang pada strata paripurna. Ia menjadi "dewa" dalam mekanisme pemasaran produk suatu perusahaan. Segala keluh-kesah konsumen menjadi bahan pelajaran penting dalam meningkatkan kualitas baik produk ataupun pelayanan perusahaan. Bahkan, pada praksisnya, tercipta adagium "konsumen bebas marah, tetapi perusahaan dilarang membalas".

Kecenderungan itu sebenarnya menjadi peluang bagi konsumen untuk melakukan kontrol sosial terhadap produk dan aktivitas pelayanan perusahaan. Ia memiliki kuasa untuk menerkam ketidakjujuran yang dilakukan perusahaan. Lantas, kenapa kasus-kasus seperti itu selalu tampil ke permukaan?

Sejak reformasi menjadi alat merevolusi negeri ini, informasi hadir menyeruak bak air bah. Ia hadir melingkupi banyak ruang, menerabas batas kota dan desa. Ia hadir hampir ke seluruh ruang termasuk ruang-ruang terpencil sekalipun. Hal itu didukung pula kemajuan teknologi. Internet maupun media-media mainstream lainnya mengalami kemajuan yang signifikan.

Pada konteks perlindungan konsumen, konstelasi kontemporer semacam itu memberi peluang dalam mencegah dan menekan praktik pembohongan oleh perusahaan. Apalagi setelah Tim O’Reilly mengintroduksi konsep Web 2.0. pada 2004. Teknologi internet khususnya, semakin interaktif dan dua arah. Konsumen mudah mendapatkan informasi tentang suatu produk dari pelbagai sudut. Sehingga berkecenderungan membuat konsumen lebih cerdas dalam menentukan apakah suatu perusahaan berbohong atau tidak dalam mempromosikan kualitas produknya.

Di negara-negara Barat yang tingkat melek internet nya tinggi, kemajuan teknologi informasi benar-benar menjadi alat signifikan dalam melakukan kontrol sosial terhadap perusahaan. Konsumen di sana mendapatkan kuasanya kembali sebagai pihak paripurna dalam mekanisme pemasaran perusahaan.

Di negeri ini situasinya berbeda. Walau teknologi informasi berlari sama tunggang-langgangnya, ternyata hanya sebagian kecil yang menikmati manfaat kemajuan teknologi tersebut. Akibatnya fatal, kuasa konsumen tercerabut dari akarnya. Kontrol sosial yang dilakukan konsumen masih sangat minim dan tidak signifikan. Apalagi, instrumen negara macam BPOM sering ketinggalan langkah dalam melakukan pengawasan mutu dalam bingkai perlindungan hak-hak konsumen.

Konsumen muda

Penulis masih optimistis jika internet adalah moda kontrol sosial konsumen yang signifikan di negeri ini. Memang, tingkat melek internet masih rendah, tetapi prevalensi melek internet di Indonesia berkecenderungan untuk signifikan di kemudian hari. Bahkan, menurut kantor berita Antara, pengguna internet akan tumbuh 40% di tahun 2009 ini menjadi sekitar 35 juta pengguna (Antara, 27/01).

Saya pikir sebagian besar dari jumlah itu berasal dari kalangan muda. Benar, saat ini adalah era kedigdayaan net generation. Generasi ini diperkuat barisan manusia muda yang lahir pada periode 1977-1997. Generasi inilah yang sedang dan bakal memimpin percaturan informasi dunia dalam beberapa dekade ke depan.

Sebelumnya, banyak orang yang ditikam cemas akan hadirnya generasi ini. Net generation, awalnya, dianggap sebagai me generation yang introvert, cuek, dan tidak peduli pada kondisi sekitar. Ia hanya terbenam pada kesenangan sendiri di balik layar komputer atau laptopnya. Namun, hal tersebut terbantahkan. Don Tappscot dalam Grown Up Digital, memuat temuan bahwa net generation adalah generasi yang memiliki kepedulian tinggi terhadap sekitar.

Realitas ini memberi kabar gembira dalam konteks perlindungan konsumen di tanah air. Para konsumen muda yang dianggap sebagai net generation mesti diberdayakan dalam mendiseminasikan kontrol sosial atas suatu produk. Kini, telah banyak media sosial semacam blog, facebook, youtube, dan twitter yang menjadi prasasti dalam membuka kebohongan yang dilakukan oleh perusahaan.

Konsumen muda mesti dirangsang untuk menggalakkan wacana, review, dan kontrol sosial atas suatu produk atau perusahaan di media-media tersebut. Saat itulah, wacana-wacana tersebut akan merebut perhatian publik dan media-media mainstream lain seperti televisi dan surat kabar. Hal ini akan menarik mekanisme diseminasi isu lintas media dari media internet ke media mainstream yang banyak terjangkau oleh masyarakat. Dan karenanya, konsumen negeri ini akan semakin melek terhadap kebohongan yang dilakukan produsen sebagai ekses kepedulian dan kepemimpinan konsumen muda dalam mencacah percaturan informasi di tanah air. ***

Penulis, peminat Societal Marketing pada Program Studi Ilmu Administrasi Niaga Universitas Indonesia.

Source Pict: Flickr
Read more
 

Marketing Kami Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger