Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label marketing. Tampilkan semua postingan

Marketing dan Persoalan Rasial

,
Tak terasa penggalan hari demi hari berlalu dengan cepat. Rasanya baru kemarin saya menulis postingan bagi kawan-kawan semua. Ternyata kini, Sabtu telah datang menyapa kita kembali. Dan itu artinya, saya pun mesti melakukan ritual rutin yaitu menyapa kawan-kawan melalui tulisan yang semoga mampu memantik kita untuk berdiskusi lebih lanjut.

Oya, ini mungkin tulisan terakhir yang dimuat di Marketing Kami versi Blogspot . Mau bubar? Tenang, jangan sedih dulu kawan (hehe). Marketing Kami akan terus eksis dan karenanya kami memutuskan untuk membeli “rumah pribadi” sendiri. Ini kami lakukan karena kami bosan mengontrak gratisan di blogspot (gaya banget dah..), dan tentunya ingin kelihatan lebih serius dan profesional dalam nge-blog. Oke, tunggu saja kawan, dalam satu-dua minggu ke depan, Marketing Kami akan hadir dalam wajah berbeda.

Let’s talk about the topic, my friends. Well, persoalan Marketing dan rasialisme, dalam beberapa tahun terakhir ini kerap mengemuka. Seminggu yang lalu, Kentucky Fried Chicken (KFC) Australia mengunggah iklan online di YouTube. Dalam iklan itu digambarkan seorang supporter cricket Australia (kulit putih) berada di antara kerumunan suporter West Indians (kulit hitam). Tentu ini membuat suporter Australia kurang nyaman, karena berada di lingkungan “lain”. Nah,untuk “menyamankan” dirinya dia menawarkan sekotak fried Chicken ke kalangan West Indian tersebut. Jelas, kalangan West Indians tersebut menyambutnya seolah-olah mendapat "durian" runtuh (interpretasi pribadi ya).

Iklan ini mungkin seformat dengan iklan salah satu provider seluler di Indonesia. Sahabat pasti ingat, akan adanya iklan yang menggambarkan seorang suporter sepakbola memakai baju kuning sementara yang lain berwarna merah. Ia terlihat seperti stranger yang eksis di tengah kerumunan suporter lawan. Ia pun terlihat celingak-celinguk ketika semua mata suporter lawan memandang dirinya yang jingkrak-jingkrak sendiri. Iklan ini kemudian cukup sukses membekas di benak masyarakat kita, dan melenggang tanpa persoalan kontroversial.

Pada konteks iklan KFC, terdapat fenomena aneh. Iklan ini sebenarnya tidak mendapat judgement rasis di Australia-nya sendiri. Anehnya, yang banyak men-judge iklan tersebut rasis itu berasal dari warga Amerika Serikat (AS). Opini pun terbelah. Banyak warga AS yang sampai rela membuat video kritikan atas iklan “rasis” tersebut. Sementara itu, warga Australia justru banyak yang menganggap warga AS tersebut mengobarkan semangat rasialisme pada objek (iklan) yang sangat TIDAK rasis tersebut.

Bagaimana dengan Anda, Kawan? Itu terserah interpretasi kawan-kawan semua. Tapi, di sini saya ingin menekankan bahwa intrepretasi masyarakat atas program pemasaran dan promosi perusahaan seringkali di luar perkiraan para marketer. Perusahaan mungkin tidak berniat untuk melukai perasaan ras, suku, atau agama tertentu dalam menginisiasi suatu program. Namun nyatanya, masyarakat memiliki kebebasan untuk menginterpretasi sendiri sesuai basis-basis kultural dirinya. Program yang tidak rasis pun bisa dianggap rasis oleh mereka.

Di Indonesia sendiri, kasus yang paling mentereng mengenai ini terjadi sekitar setahun yang lalu. Kawan pasti ingat dengan kehadiran “Budha Bar” di Jakarta. Bar ini sepertinya ingin memberikan sensasi lain pada pegiat kehidupan malam dengan memasang simbol-simbol agama Budha di interiornya. Dan sangat mungkin juga pemilik bar tersebut tidak bermaksud melecehkan agama Budha dengan hal tersebut. Namun nyatanya, “Budha Bar” ini membuat banyak Bhiksu “turun gunung” dari vihara ke jalanan, untuk menggagalkan eksistensi “Budha Bar” ini.

Persoalan yang menyangkut KFC dan “Budha Bar” ini tentu memberikan pelajaran kepada para—dan calon—marketer untuk berhati-hati menghadapi reaksi kultural masyarakat. Masalah reaksi kultural ini sangat berdampak signifikan dalam kelangsungan hidup suatu perusahaan. Banyak perusahaan yang awalnya ingin melakukan diferensiasi justru ditikan kebangkrutan akibat resistensi masyarakat atas “kelakuan” perusahaan yang dianggap rasis atau melecehkan agama tertentu.

Sementara itu, pada sisi lain, persoalan rasialisme dalam dunia pemasaran terkadang bersumber dari dunia luar perusahaan. Jika KFC dan Budha Bar banyak dikritik karena dianggap melecehkan simbol-simbol ras dan agama tertentu, banyak juga perusahaan yang tertimpa sial akibat perilaku rasis dari pihak-pihak luar yang terkait dengannya, Arla Foods contohnya.

Pada tahun 2006, Perusahaan multi-nasional asal Denmark ini membukukan kerugian 1 juta Euro/hari akibat boikot produk-produk Denmark di kawasan Timur Tengah. Anda pasti tahu, ketika itu dunia muslim terutama di Timur Tengah marah atas dimuatnya karikatur Nabi Muhammad di koran Jylland Posten Denmark. Resistensi masyarakat muslim atas Denmark kemudian berujung pada boikot produk-produk asal Denmark. Arla Foods, konon, membukukan kerugian total sebesar 65 juta Dollar akibat boikot tersebut, padahal sebelumnya kawasan Timur Tengah merupakan pangsa-pasar terbesar Arla Foods.

Ketiga kasus tersebut semakin memperjelas bahwa efek dari reaksi kultural masyarakat sangatlah signifikan bagi eksistensi suatu produk ataupun perusahaan. Saya pribadi berpandangan bahwa hal ini terjadi sebagai akibat pergeseran pola konsumsi masyarakat. Sadar atau tidak, sebagai akibat melimpah-ruahnya informasi, konsumen semakin “berpengetahuan” dalam mengkonsumsi barang. Karenanya, pola konsumsi masyarakat bukan lagi urusan “perut” semata tapi bergeser pada aspek-aspek kultural, lingkungan bahkan politik dari produk tersebut.

Kini, konsumen akan lebih aware terhadap asal-muasal produk tersebut. Apakah produk ini dibuat dari bahan-bahan yang merusak lingkungan? Apakah produk ini berasal dari negeri yang rasis? Jika benar, tentu konsumen akan mengalihkan pilihannya ke produk-produk lain yang lebih menghargai sisi humanis masyarakat.

Kenyataan ini tentu kita harapkan juga merembes ke benak kita masyarakat Indonesia. Di tengah bayangan gempuran produk Cina sebagai ekses ASEAN-China Free Trade Area (ACFTA), masyarakat diharapkan lebih aware dengan country-of-origin dari suatu produk. Dengan mandulnya pemerintah dalam melakukan negosiasi ulang mengenai ACFTA ini, maka masyarakatlah yang menjadi garda terdepan untuk menyelamatkan produk-produk dalam negeri.

Inilah saatnya bagi kita para konsumen untuk bahu-membahu menyelamatkan produk-produk dalam negeri dengan jalan memprioritaskan konsumsi produk-produk asli Indonesia. Namun, jika kemudian Anda mengeluh, habisnya gw gak ada pilihan lain, produk Cina lebih murah, berkualitas dan beragam, gimana coba? Mungkin, untuk kasus ini, pemerintah yang mesti menjawabnya.

Photo by ~alyhazzaa

Read more

Me-layar lebarkan Iklan Politik

,

Beberapa hari lalu, saya mengunjungi bioskop di salah satu pusat perbelanjaan di daerah Jakarta selatan. Ketika film hendak dimulai, alangkah terperanjatnya saya begitu melihat iklan salah satu kandidat Capres yang diputar menjelang dimulainya film. Awalnya, saya pikir itu adalah salah satu trailer film yang akan hadir (coming soon) sebagaimana biasanya. Namun ternyata setelah hampir durasi 3 menit-an, saya baru menyadari bahwa itu sebenarnya adalah iklan politik salah seorang Capres. Keterkejutan saya ini tentu saja beralasan, terlebih materi iklan tersebut yang lain daripada yang lain. Formatnya sengaja dibuat atau disesuaikan dengan layar lebar, begitu pula dengan materi iklan yang seperti film yang sudah terskenario dengan baik. Tidak sedikit penonton yang kemudian terkejut, kagum, atau bahkan sekadar bersiul ringan setelah melihat iklan politik —yang menurut saya paling lama—dengan durasi kurang lebih 8 menit tersebut. Melihat antusiasme para penonton bioskop tersebut saya kemudian berpikir mengapa iklan politik, yang biasanya diacuhkan oleh para penonton, dapat menjadi suatu hal yang memikat, terlepas dari apakah para penontonnya kemudian berminat untuk memilih calon tersebut atau tidak. Maka saya pun tergerak untuk sekadar menggoreskan isi pemikiran saya mengenai hal tersebut dalam tulisan yang singkat ini.

Iklan politik, layaknya iklan-iklan lain pada umumnya juga mempunyai tujuan yang hampir sama, salah satunya yaitu untuk menginformasikan kepada khalayak mengenai produk yang ditawarkan. Begitu pun dengan iklan politik, yang membedakannya hanyalah “produk” yang diiklankan dan juga waktu penayangan iklan tersebut (biasanya hanya pada musim kampanye). Produk politik tentu saja berbeda treatment-nya dengan produk non politik yang cenderung komersial dan berorientasi profit. Menurut Niffegger (1989) produk politik terbagi menjadi tiga kategori, yaitu (1) party platform, (2 post record (catatan tentang hal-hal yang dilakukan di masa lampau), (3) karakteristik pribadi. Terkait dengan musim kampanye capres saat ini, maka setidaknya kita dapat memasukkan pada dua kategori di atas, yaitu post record dan karakteristik pribadi, platform partai juga mempunyai pengaruh namun tak sesignifikan Pemilu Legislatif sebelumnya. Selebihnya sudah dapat kita tebak, iklan yang merupakan salah satu ujung tombak marketing plan akan diisi oleh dua kategori tersebut, yaitu tentang karakteristik pribadi calon atau tentang hal-hal yang sudah pernah dilakukan sebelumnya oleh sang calon. Maka tak heran apabila iklan-iklan politik saat ini kebanyakan mempunyai content yang hampir sama.

Iklan sebagai media transfer politik juga harus dikemas sedemikian rupa agar mampu untuk menarik atensi khalayak umum dan secara bersamaan mampu melakukan transfer nilai dan pesan politik kandidat kepada mereka. “Pengemasan” iklan inilah yang kemudian dapat sangat menentukan keberhasilan suatu iklan ketika sudah dirilis di tengah-tengah masyarakat umum. Dalam musim kampanye akhir seperti ini, rakyat sudah mampu untuk menangkap atribut nilai politik yang ditawarkan oleh para kandidat. Mulai dari “ekonomi kerakyatan”, “ekonomi kemandirian”, “program yang berkelanjutan”, dan lainnya sudah sangat melekat di diri masing-masing pasangan Capres-Cawapres. Oleh karena itu, tak heran apabila kemudian kreatifitas lah yang akan sangat menentukan keberhasilan pertarungan iklan, karena atribut-atribut program kerja pasangan sudah melekat di masyarakat. Dalam fase inilah maka pertarungan iklan sudah tak lagi pada tahapan “perang program”, namun lebih kepada perang kreatifitas di mana program-program dan citra para kandidat dapat diwujudkan dalam bentuk iklan.

Kembali ke masalah di awal tadi, iklan yang baik harus disesuaikan dengan kondisi lingkungan dan juga tipikal khalayak yang dituju. Penayangan iklan di televisi, media cetak atau bahkan layar lebar tentu saja mesti berbeda antara satu dengan yang lainnya karena target konsumen yang dituju pun akan sangat berbeda. Para penonton televisi tentu saja berbeda tipikalnya dengan penonton bioskop yang notabene-nya sudah membayar sejumlah biaya untuk melihat sesuatu yang lebih “bernilai” ketimbang di televisi. Kesesuaian iklan dengan media yang dipilih inilah yang dapat menjadi titik kulminasi kreatifitas para marketer dan pengiklan dalam menawarkan produk-produknya, termasuk juga kandidat Capres-Cawapres yang merupakan produk politik. Terlepas dari itu semua, pemasaran produk politik (termasuk juga iklan politik) memang lebih sulit untuk di analisis jika dibandingkan dengan produk konvensional, karena kecenderungan emosional produk politik jauh lebih besar ketimbang produk konvensional yang masih rasional.




Sumber Gambar: inilah.com
Read more

Brand Friendship: Kesetaraan Produsen dengan Konsumen

,
Tak dapat dipungkiri lagi bahwa hubungan yang kuat antara suatu brand dengan para konsumennya menjadi suatu aset yang penting bagi perusahaan manapun dalam mempertahankan eksistensi produknya di pasar. Hal ini pula yang kemudian membuat banyak perusahaan (khususnya bagian pemasaran) yang mati-matian membangun brand loyalty karena mereka menyadari bahwa loyalitas yang tinggi dari para konsumennya dapat menjadi competitive advantages di tengah persaingan pasar yang semakin sengit. Namun disadari atau tidak, memperlakukan konsumen hanya sebagai “aset” yang harus dipertahankan akan sangat berpengaruh bagi loyalitas konsumen itu sendiri.

Konsumen, apapun latar belakangnya, adalah makhluk sosial yang memiliki perasaan dan juga pikiran, bukan hanya sekadar aset yang apabila tak berguna kemudian dapat dicari lagi penggantinya. Terlebih lagi, saat ini konsumen sudah lebih cerdas dan kritis dalam memaknai peranan mereka. Mereka sudah lebih menyadari bahwasanya mereka memiliki kebebasan dan kekuasaan dan tak perlu lagi “didikte” oleh para diktator yang bernama produsen. Hal ini lah yang kemudian menuntut perusahaan untuk dapat membina hubungan yang lebih setara dengan para konsumennya. Kalau perlu, jadikanlah para konsumen sebagai sahabat, bukan hanya sebagai mitra, partner, dan semacamnya. Untuk itu, maka muncullah gagasan baru yang kemudian disebut dengan brand friendship.


Kosakata brand friendship bisa jadi adalah istilah baru yang jarang terdengar dalam dunia pemasaran kontemporer. Lalu, apa sebenarnya brand friendship itu?. Dalam praktiknya, brand friendship sebenarnya tidaklah jauh berbeda dengan brand loyalty. Hanya saja, brand friendship—sesuai dengan namanya—mempunyai kedalaman makna dan tentu saja, kekuatan ikatan dan hubungan antara subjek dan objeknya, dibandingkan dengan brand loyalty. Mudahnya begini, Ketika kita ditanya manakah yang hubungannya lebih dekat, loyalis atau sahabat? Tentu saja kita akan menjawab sahabat. Ditambah lagi, dalam membangun suatu brand friendship¸setidaknya diperlukan tiga hal utama yang menjadi katalisnya, yaitu sense of belonging, friendship, dan dependability.

Sense of Belonging

Tahap awal dalam menciptakan brand friendship yang sukses adalah sense of belonging (rasa memiliki). Konsumen yang sudah mempunyai sense of belonging terhadap suatu brand, maka tidak sulit rasanya untuk mempertahankan mereka dan terus meningkatkan tingkat loyalitas mereka. Sense of belonging ini sendiri sangat berbeda-beda dalam realitanya tergantung dari brand yang bersangkutan. Antusiasme para konsumen BMW dalam menghadiri acara launching tipe terbarunya bisa jadi termasuk ke dalam sense of belonging, namun lain halnya apabila yang melakukan launching tersebut adalah Toyota. Lantas, apakah yang menciptakan sense of belonging itu sendiri?. Menurut Steve Mckee dalam artikelnya di BusinessWeek, hal yang paling penting dalam menciptakan sense of belonging adalah relevansi. “Brands that generate the strongest sense of tribal identity are so relevant to the wants and needs of their customers that they generate a natural gravitational pull”, itulah sebagian dari argumennya mengenai relevansi dalam penciptaan sense of belonging. Namun, adanya sense of belonging ini belumlah cukup untuk menciptakan brand friendship yang baik karena masih memerlukan dua hal lagi untuk melengkapinya, yaitu friendship dan dependability.

Friendship

"The only way to have a friend is to be one." Dogma itu bisa jadi merupakan cara yang paling benar dalam menggambarkan apa arti pertemanan sebenarnya. Begitu pula jika dikaitkan dengan brand dari suatu produk, untuk dapat bersahabat dengan para konsumennya maka mau tidak mau ia mesti “melebur” dengan para konsumennya tersebut. Tampaknya hal ini pun sudah sangat disadari betul oleh beberapa merek terkenal, Starbucks misalnya. Bagi kebanyakan orang (di Amerika Serikat khususnya) kunjungan mereka ke kedai kopi tersebut ibarat kunjungan ke tempat kerabat atau teman dekat mereka di mana mereka dapat merasa nyaman dan familiar. Inilah kunci untuk membangun kedekatan dengan para konsumen, buatlah mereka familiar dan nyaman dalam menggunakan produk, baik itu bentuknya barang maupun jasa. Lagi-lagi, ini pun belum cukup untuk dapat membuat pertemanan yang solid. Perlu diingat bahwa tidaklah mungkin untuk memaksakan konsumen agar dapat merasa nyaman ataupun familiar dengan brand dari suatu produk. Untuk itu maka diperlukan hal ketiga, yaitu dependability.

Dependability

“true friend is someone you can count on”, itulah kunci terakhir dalam menciptakan brand friendship yang sukses. Brand yang sukses dalam menjalin hubugan dengan para konsumennya adalah brand/produk yang terbukti dapat diandalkan ketika para konsumen sedang membutuhkannya. Inilah yang kemudian membuat para konsumen BCA cenderung loyal dengan ATM BCA karena mereka terbukti dapat diandalkan ketika sedang dibutuhkan. Coba saja lihat berapa banyak jumlah mesin ATM BCA yang bertebaran, baik itu di kota besar, kota kecil, tempat perbelanjaan, kampus,rumah sakit, atau sekadar di pinggir jalan.

Terlepas dari benar atau tidaknya bahwa pertemanan dengan konsumen memang benar-benar ada atau tidak—karena kesetaraan antara produsen dengan konsumen memang sulit tercipta— tidak ada salahnya bagi para marketer dalam menerapkan konsep brand friendship ini. meskipun nantinya konsumen target tidak benar-benar menjadi “sahabat” baik, setidaknya mereka sudah mengalami peningkatan loyalitas yang cukup signifikan pengaruhnya terhadap eksistensi suatu brand nantinya.



Read more

Life is Short, Have an Affair

,
Ketika palu godam krisis finansial global menghantam, banyak perusahaan di dunia ini yang tunggang-langgang menghindari kebangkrutan. Bahkan, raksasa otomotif macam Chrysler pun tak kuasa menahan bencana kebangkrutan. Inilah saat dimana banyak perusahaan—baik skala kecil, menengah, atau besar—ditikam cemas akan keberlangsungan usahanya.

Namun, bagi perusahaan unik dan kreatif seperti Ashley Madison Agency, downturn ekonomi macam begini justru menjadi penopang progresivitas usahanya (a boon for business). Bayangkan—berdasarkan laporan Daily Telegraph—Ashley Madison berhasil meningkatkan member-nya dari 1 juta orang menjadi 3,6 juta orang hanya dalam tempo waktu 12 bulan saja. Di tengah krisis finansial akut macam begini, apa yang didapat Ashley Madison jelas sebuah fenomena luar biasa.

Lantas apa yang sebenarnya dilakukan oleh Ashley Madison (AM)?

AM adalah sebuah agency yang menjadi perantara orang-orang untuk mencari pasangan selingkuhan (make an Affair). Di tengah hantaman krisis seperti ini, ternyata banyak pasangan di Inggris yang dilanda konflik rumah-tangga. Ya, sebabnya banyak mulai dari sang kepala rumah-tangga yang kehilangan pekerjaan ataupun sebab-sebab lain yang Anda semua juga sudah familiar dengan konflik dalam rumah. Pasangan-pasangan tersebut, sebenarnya, sudah tidak kerasan lagi dalam membina rumah-tangganya. Mereka ingin pisah, kalau mengikuti hasrat jiwanya. Sayangnya, untuk bercerai macam demikian ternyata menimbulkan biaya yang cukup besar (high cost divorce kali ya?).

Coba bayangkan untuk bercerai Anda perlu menyewa pengacara yang tarifnya kian mahal, belum lagi masalah proses dan peraturan dalam sidang perceraian. Semua itu sangat, sangat high cost baik dari segi materi, waktu, ataupun tenaga. Kondisi ini, akhirnya, membuat pasangan-pasangan tersebut terpaksa (dipaksa?) untuk terus hidup bersama dalam mahligai pernikahan.

Melihat kecenderungan ini, AM dengan kreatif menjadi agen para pasangan-pasangan tidak bahagia tersebut untuk mencari pasangan selingkuh tanpa harus bercerai (emang, kan Selingkuh=Selingan Indah Keluarga tetep Utuh..:D). Ternyata, kreativitas AM ini diterima banyak orang Inggris. Banyak pasangan-pasangan tidak bahagia yang menggunakan jasa AM dalam mencari affair-nya. AM pun meledak di tengah krisis. Noel Biderman—sang founder dan chief executive—berkelakar "We're not just recession-proof, we're booming," (Telegraph, 3/3/2009).

Dari fenomena ini, saya melihat satu kecenderungan unik dari bisnis-bisnis yang meledak di tengah krisis. Ternyata, peluang bisnis yang paling besar meledak itu adalah bisnis-bisnis yang mengakomodir self-recovery manusia yang terlalu stress menghadapi krisis. Ya, mudahnya bisnis-bisnis yang bernuansa hiburan. Kita dapat membuktikannya lewat fenomena AM yang saya jelaskan di atas.

Selain itu, kita juga dapat melihatnya dari booming game yang embedded di situs-situs jejaring sosial macam Facebook. Kalau Anda sering ber-Facebook ria, Anda pasti menemukan banyak teman Anda yang sering bermain Pet Society, Mafia Wars atau game-game lainnya. Benar, game-game macam itu ternyata memang menghasilkan profit yang lumayan besar. Ya, seperti oase di tengah gurun mungkin.

AM dan game berlandas dari titik yang sama: menghibur orang. Himpitan beban hidup sudah kadung menerkam jiwa manusia. Stres adalah fenomena umum, jika bukan depresi ataupun gila. Akhirnya, banyak orang mencari kesenangan diri untuk melarikan dari stres berkepanjangan. Mereka ternyata masih ingin hidup, hidup yang senang, terlepas dari problematika akut. AM dan game-game seperti Pet Society akhirnya menjadi pelarian.

Ah..ternyata Biderman memang benar daripada hidup berkubang duka mending berkubang senang dengan selingkuh..Life is Short, Have an Affair. Walaupun secara tidak sadar mereka sedang “ditawan” oleh para marketer kreatif yang tertawa menikmati profit di belakang mereka.

Source Pic: Share Result
Read more

Kreativitas Kunci Memenangi Pasar

,
Ini adalah resensi saya atas buku Ippho Santosa berjudul "Marketing is Bullshit..". Resensi ini telah dimuat di Koran Jakarta edisi Rabu, 22 April 2009 ini.
-----------
Judul : Marketing is Bullshit…:
Penulis : Ippho Santosa
Penerbit : PT. Elex Media Komputindo
Tahun : II, Februari 2009
Halaman : XVIII + 179
Harga : Rp 39.800

Kini, banyak perusahaan yang sempoyongan menjalankan bisnisnya. Palu godam krisis finansial global membuat detak jantung banyak perusahaan kembang kempis. Krisis finansial global menerjunkan daya beli masyarakat pada titik terendah. Pada sisi lain, biaya produksi dan operasional perusahaan meningkat drastis. Pada titik inilah banyak perusahaan menghadapi situasi pelik yang dapat berujung pada kebangkrutan.

Dalam situasi demikian, senjata apa yang mesti digunakan untuk tetap melanggengkan aktivitas perusahaan? Ippho Santosa dalam buku ini melemparkan senjata yang ia yakini sebagai panacea dalam meledakkan profit perusahaan dalam kondisi apa pun, yakni kreativitas.


Ippho dengan garang menggelandang kreativitas pada tataran paripurna dalam fungsi marketing sebuah perusahaan. Menurutnya, marketing hanyalah fungsi omong kosong andai tanpa dibarengi kreativitas dari pihak-pihak yang menopangnya. Pembaptisan kreativitas sebagai senjata pemasaran perusahaan memang layak dipertimbangkan. Kita mesti sepakat, situasi krisis yang berujung resesi ini menghadirkan warna kompetisi baru dalam dunia bisnis kontemporer.

Buku ini menjadi relevan dalam menelikung tantangan dan hambatan kontemporer yang dihadapi pebisnis dewasa ini. Ippho menggelandang perspektif yang segar bin unik dalam mencacah marketing sebagai fungsi penting dalam menopang eksistensi perusahaan. Pembaca diajak untuk membabat berbagai macam perspektif omong kosong (bullshit) dalam konsep marketing yang ironisnya sering kali diagung-agungkan oleh para pebisnis selama ini.

Tengoklah satu contoh yang dilontarkan Ippho dalam membedah Bullshit #2: Terobosan adalah Pemborosan. Banyak pebisnis yang menganggap terobosan atau inovasi sebagai pemborosan dalam aktivitas pemasaran perusahaan. Inovasi, baik dalam produk maupun promosi sering kali dipandang mahal dengan efek yang masih tanda tanya.

Ippho berusaha melawan persepsi demikian dengan contoh-contoh yang jenaka. Misalnya, terobosan yang dilakukan oleh Onitsuka Tiger—perusahaan sepatu asal Jepang—dalam mempromosikan produknya secara online. Onitsuka Tiger membuat kontes yel-yel sepak bola terbuka secara online. Apa yang dilakukan oleh Onitsuka Tiger ini jelas membuktikan bahwa terobosan dapat dilakukan dengan biaya yang murah, yaitu hanya dengan mengeksploitasi sumber daya Internet yang dimiliki perusahaan. Selain itu, inovasi berbiaya minimalis ini pun ternyata memberika efek digdaya dalam mempromosikan produk Onitsuka.

Bahwa apa yang dikabarkan Ippho dalam buku-bukunya termasuk Marketing is Bullshit.. ini bukanlah semata konsep yang kokoh di menara gading. Ia justru hadir dalam tataran praksis. Kita dapat mengaplikasikannya langsung dalam meledakkan profit bisnis kita. Atau minimal dengan ini, kita ditikam sugesti untuk terus kreatif dalam berbisnis. Karenanya, buku ini relevan bagi Anda yang hendak menerabas pengertian menyehari dalam berbisnis.

Peresensi adalah Veri Nurhansyah Tragistina, peminat Societal Marketing pada Program Studi Ilmu Administrasi Niaga Universitas Indonesia

Read more

why Naruto so popular!?

,

Siapa sih yang tidak kenal dengan Naruto!? tokoh manga/anime Jepang yang satu ini telah banyak menyita perhatian para penggemarnya di seluruh dunia. Mulai dari anak-anak, remaja, bahkan dewasa pun terbius dengan kehadiran sang Kyubi ini. demam naruto memang sedang melanda dunia saat ini, terutama Indonesia. Dari sinilah mulai banyak yang bertanya-tanya, kenapa sih Naruto bisa sangat populer (khususnya di Indonesia)!? Coba saja Anda masukkan keyword why naruto so popular?! Di Google dan niscaya Anda akan mendapatkan banyak sekali output terkait pertanyaan tersebut. nah, di sini saya akan coba menerangkannya berdasarkan pengetahuan marketing yang saya pahami.

Naruto adalah manga masterpiece dari seorang komikus muda asal Jepang yang bernama Masashi Kishimoto yang pertama kali terbit pada tahun 1997. Inti ceritanya sederhana, berkisah tentang seorang ninja muda bernama Naruto yang tinggal di sebuah desa tersembunyi (hidden village) bernama Konoha dan mempunyai ambisi untuk menjadi Hokage (pimpinan tertinggi di desa tersebut). Seterusnya sudah dapat ditebak, manga/anime Naruto mengkisahkan sepak terjang Naruto dan permasalahan yang dilaluinya dalam menggapai impian tersebut.

Selain menawarkan ide cerita yang sederhana dan mudah dimengerti tersebut, Naruto juga mampu untuk menawarkan fantasi yang berada di luar dunia nyata serta melibatkan emosi para pembaca/penontonnya. Hal ini jua yang membuat Doraemon dan Dragon Ball sangat populer pada masanya dan tampaknya Kishi (panggilan untuk Masashi Kishimoto), benar-benar mampu untuk menuangkan nilai-nilai (value added) ini pada manga hasil gubahannya tersebut. Di samping itu, masih ada lagi faktor-faktor pendukung keberhasilan (dilihat dari aspek marketing) sang Kyubi , yaitu:

1. Word of Mouth (WoM)
Dari mana Anda pertama kali mengetahui Naruto?jika pertanyaan ini diajukan pada kita, Saya yakin sebagian besar dari kita menjawabnya adalah dari teman. Yep, kekuatan dari WoM ini memang sangatlah berperan besar dalam melejitkan popularitas Naruto, selain peranan media (elektronik dan cetak) tentunya. Kita akan cenderung akan lebih tertarik untuk mencoba suatu produk apabila direkomendasikan oleh seseorang, apalagi bila yang merekomendasikannya adalah orang-orang terdekat kita, keluarga atau teman misalnya. Saya sendiri pertama kali mengenal Naruto dari teman SMA yang meminjamkan komiknya pada saya.

2. Community
Tak dapat dipungkiri bahwa pelaku WoM yang saya sebutkan di atas memang kebanyakan berasal dari komunitas penggemar anime, manga, dan hal-hal yang “berbau” Jepang (japanese freak) lainnya. Mereka yang menggemari Naruto, dapat dipastikan juga menyenangi hal-hal kejepang-jepangan lainnya, seperti J-Pop/Rock, Tokusatsu, manga dan anime, atau bahkan J-style (harajuku misalnya). Meskipun komunitas-komunitas ini kebanyakan hanyalah sekadar sekumpulan (informal) orang-orang yang doyan dan mempunyai ketertarikan dengan anime/manga, namun disadari atau tidak pengaruh mereka terhadap popularitas Naruto sangatlah signifikan.


3. Penerbit/Distributor
Naruto diterbitkan dan didistribusikan oleh salah satu perusahaan penerbit manga terlaris dan terkemuka di Jepang, yaitu Shueisha (Shonen Jump), yang telah membesarkan sejumlah manga terkenal seperti Dragon Ball, Rurouni Kenshin (Samurai X),Yuyu Hakusho, Bleach, Inuyasha, dan lainnya. Image dan reputasi dari perusahaan ini juga sedikit banyak telah mempengaruhi larisnya Naruto, baik dalam bentuk manga, anime, ataupun merchandise. Naruto sendiri hadir bersama dengan manga-manga lainnya dalam majalah kumpulan manga yang bernama Shonen Jump yang merupakan majalah paling laris di Jepang.

Selain beberapa faktor tersebut, saya rasa faktor terbesar dari keberhasilan Naruto dalam menyihir para “konsumen”nya adalah chemistry yang menurut saya pribadi, sulit untuk dijelaskan. Kebanyakan orang yang saya tanyakan alasannya mengapa ia menyukai Naruto jawabannya hanyalah “yah, suka aja”, tak tahu kenapa suka”, “keren sih” dan semacamnya. Jawaban yang menurut saya pribadi, sulit untuk masuk logika. Saya sendiri juga heran, mengapa saya yang berusia hampir 21 tahun ini masih tetap menyukai Naruto dan membayangkan diri saya menjadi bagian dari cerita tersebut. Tapi, itulah Naruto, memang benar-benar unpredictable. Dattebayo!!!!!!


Read more

Erotica Marketing:Penggunaan unsur erotis dalam dunia pemasaran

,

           
Siapa sih yang tidak tertarik dengan wanita-wanita cantik?! apalagi bila mereka dibalut dengan busana yang sedemikian sexy dan ditambah dengan gesture yang sangat “mengundang”, orang-orang—khususnya kaum Adam, jelas akan dibuat menelan ludah karenanya. Ketertarikan terhadap wanita-wanita cantik dan sexy serta hal-hal yang berbau erotisme adalah suatu kelaziman yang memang sangat wajar adanya, bahkan di antara para wanita pun juga seperti itu.

Dalam dunia marketing sendiri, penggunaan aspek-aspek erotis dan mengundang syahwat untuk menarik minat target market bukanlah barang baru lagi. Kalau tidak percaya coba saja tengok majalah-majalah atau iklan yang menggunakan perempuan cantik dan sexy sebagai eye-catchernya, banyak sekali bukan?! Meskipun hal-hal erotik yang “disodorkan” bukanlah sebagai konten utamanya, namun tanpa disadari seringkali konsumen terjebak dan tertarik untuk membeli produk tersebut. Keampuhan sihir erotis ini memang sudah diakui, yang kemudian disadari betul oleh para marketer dari produk-produk tertentu dan kemudian memanfaatkannya sebagai salah satu pengejawantahan dari strategi pemasaran mereka. Maka kemudian lahirlah istilah erotic marketing yang mengacu pada penggunaan konten-konten erotis dalam strategi pemasaran. Secara definisi, menurut Oxford Dictionary, erotis berarti sesuatu yang menimbulkan keinginan atau kenikmatan seksual. Jadi, erotica marketing dapat diartikan sebagai penggunaan hal-hal yang dapat menimbulkan keinginan atau kenikmatan seksual bagi yang menjadi objeknya dalam memasarkan suatu produk. Tidak jelas kapan pertama kali istilah ini digunakan, namun tampaknya untuk pengapliakasiannya sendiri bahkan sudah ada semenjak puluhan tahun yang lalu.

Meskipun sudah diakui keampuhannya dalam menarik minat dan atensi target market, namun bukan berarti penggunaan unsur-unsur erotik dalam strategi pemasaran tak lepas dari masalah. Masalah yang terjadi biasanya disebabkan oleh adanya penolakan oleh lingkungan eksternal, baik sosial, budaya, norma, atau agama di mana strategi tersebut diaplikasikan. Buktinya, coba saja lihat kasus film ML, video klip Aura Kasih, atau pemotongan durasi iklan L-men karena kontennya yang dianggap “vulgar”. Permasalahan berikutnya adalah terkait dengan konten sexy dari erotic marketing itu sendiri. Dalam dunia erotic marketing, dikenal suatu jargon, “erotic marketing isn’t sexy, but raunchy”. Maksudnya adalah bahwa nilai yang diberikan oleh suatu konten erotis hanyalah sekadar menampilkan hal-hal yang cenderung berbau pornografi namun kurang akan imajinasi serta tidak memberikan value added apa-apa— selain memacu syahwat tentunya. Oleh karena itu, terkadang banyak produk-produk yang menampilkan hal-hal erotis yang justru melekatkan imej “murahan” terhadap produk tersebut. Sebagai contoh kita bisa melihat koran Lampu Merah dan koran-koran serta tabloid stensilan lainnya yang hanya sekadar menampilkan gambar-gambar erotik namun miskin akan nilai untuk konsumen.

Terlepas dari itu semua, erotica marketing memang merupakan salah satu khazanah kekayaan ilmu marketing yang patut untuk diperhitungkan. Selain kemampuannya yang sangat ampuh untuk menarik minat dan perhatian massa, ia juga terbukti sangat eksis dan populer di kalangan masyarakat awam, lelaki khususnya. Yah, untuk yang satu ini boleh percaya boleh tidak, namun itulah realitanya. Erotica marketing akan terus ada dan berkembang selama manusia itu sendiri masih eksis dan mempunyai ketertarikan seksual tentunya.

SOurce Pic: BusinessWeek
Read more

Marketer atau Marketeer?

,

Istilah marketer jelas-jelas familiar sekali dengan telinga kita, meskipun Anda bukanlah orang yang menggeluti dunia marketing dan sekitarnya, setidaknya sudah pernah mendengar istilah marketer. Namun marketeer (dengan double e), jelas sangat jarang. Bahkan orang yang mengaku sudah lama terjun dan bergelut dengan dunia marketing pun belum tentu pernah mendengar istilah marketeer, apalagi yang bukan orang marketing. Sekilas, term marketeer tampak seperti gabungan dari dua kata yang berbeda, marketing dengan musketeer dan memang benar begitu adanya.


Dua kata tersebut jelas mempunyai makna yang berbeda, namun justru itulah yang membuatnya menarik. Lantas, apa bedanya marketer dengan marketeer? Di sinilah kami akan coba untuk memberikan sedikit penjelasan terkait pertanyaan tersebut.

Marketer, berdasarkan free online dictionary adalah subjek (bisa individu atau kelompok) yang menjual produk barang atau jasa kepada pasar, khususnya pasar yang spesifik dan menurut American Marketing Asociations, marketer adalah individu atau kelompok yang melakukan aktivitas dan proses pembuatan, komunikasi, penyampaian dan pertukaran nilai atas barang atau jasa kepada konsumen, klien, partner, dan masyarakat secara umum.

Sedangkan marketeer, menurut Longhaus Journal adalah term paradoksial yang merujuk pada (1) profesi dari seseorang yang terikat aktivitas marketing; (2) sebagai suatu sikap yang terbentuk akibat mempunyai pengalaman berkenaan dengan aktivitas unit marketing yang buruk; (3) seseorang yang enggan menggunakan teknologi baru dalam strategi pemasaran; (4) penghargaan yang diberikan kepada suatu perusahaan dengan predikat the worst marketing effort.

Dari definisi saja mungkin kita bisa melihat apa perbedaan mendasar antara marketer dengan marketeer, yaitu keluasan ruang lingkupnya. Dapat dikatakan bahwa marketer termasuk ke dalam marketeer apabila melihat makna pertama dari marketeer. Inilah yang kemudian akhirnya banyak mengundang kontroversi terkait dengan penggunaan marketer atau marketeer.

Ada pihak yang cenderung ke marketer, namun ada juga yang bertendensi menggunakan marketeer. Bagi sebagian orang, marketeer lebih cocok untuk sebutan bagi subjek marketing karena ketegasan dan keseriusan maknanya sementara marketer hanya sebatas subjek (pelaku) saja. Meski demikian, marketer tetap lebih banyak digunakan oleh orang-orang karena lebih familiar dan secara teoretis dapat dipertanggungjawabkan, berbeda dengan marketeer yang lahir sebagai idiom. Jadi, apakah marketer atau marketeer yang lebih pantas menurut Anda? Silahkan memilih.

Source Picts: Flickr
Read more

Console war: Playstation 4 vs Xbox 720 vs Wii 2

,



Bagi para gamer sejati, mungkin isu tentang peluncuran Playstation 4 bukanlah menjadi sesuatu hal yang baru lagi, begitu pun dengan Xbox 720 dan Nintendo wii 2. Namun tentang jadwal peluncurannya yang dipercepat, bisa jadi cukup mengejutkan. Yep, Playstation 4 akan diluncurkan lebih awal menjadi tahun 2010 dan mengenai kebenaran beritanya sudah diklarifikasi sendiri oleh VP of Tecnology Sony, Paul Holman. Ada apa gerangan dengan langkah Sony yang terkesan terburu-buru ini? ditambah dengan kondisi perekonomian dunia yang sedang morat-marit saat ini, tampaknya menarik untuk dibahas dari segi marketing.


Bukan menjadi rahasia umum lagi bahwa Sony telah mengalami kekalahan telak dari pesaing utamanya, Microsoft dengan Xbox dan Nintendo dengan Wii-nya pada pasar konsol game di atas 72 bit. Meskipun penjualan konsol game Sony terbilang progresif, namun dilihat dari aspek brand equity, jelas terlihat bahwa Playstation 3 mengalami deklinasi yang jauh dibandingkan dengan pendahulunya, Playstation 2. Dahulu, dengan bangganya Sony mengklaim bahwa mereka sukses di segmen 72 bit dengan mengalahkan Sega Dreamcast dan Nintendo Gamecube, namun saat ini, dapat dibilang sebaliknya.

Ada banyak faktor yang kemudian membuat Playstation 3 kalah dari Nintendo Wii maupun Xbox 360, salah satunya adalah faktor game. Kebanyakan game yang diperuntukkan untuk Wii memang didesain menjadi family gaming alias game yang dapat dimainkan oleh seluruh anggota keluarga. Berbeda dengan game-game Playstation 3 yang kebanyakan diperuntukkan untuk remaja (PG-13) dan penuh dengan kekerasan. Selain itu, dilihat dari faktor distribusi, Microsoft Xbox unggul karena mereka menggunakan DHL sebagai partner yang sudah terkenal keluasan jaringannya.

Mengambil pelajaran dari kekalahan terdahulu, tampaknya pihak Sony tak mau tinggal diam, maka segeralah dibuat penerus Playstation 3, yaitu Playstation 4. Sialnya bagi pihak Sony, ternyata Microsoft juga telah mengantisipasi hal tersebut dengan segera meluncurkan Xbox 720 yang kabarnya juga akan diluncurkan pada tahun yang sama. serupa dengan Microsoft, Nintendo juga sudah mempersiapkan konsol teranyarnya penerus Wii, yaitu Wii 2.

Persaingan di dunia konsol game memang semakin hari semakin “panas”, jika tak pandai-pandai mengatur strategi untuk memperoleh keunggulan kompetitif, bukan tidak mungkin akan ada yang tersingkirkan. Tidak percaya?, coba saja lihat Sega yang hidup segan mati tak mau atau Atari sang pioneer konsol game yang namanya saja sayup-sayup terdengar saat ini. Jadi, siapakah pemenang persaingan di segmen konsol game mendatang? Xbox 720, Wii 2 atau Playstation 4? Atau akan ada pendatahg lainnya? kita lihat saja nanti.

Source Pics: Technabob, Geekologie
Read more

Malapetakamu adalah Rezekiku

,


Tanggal 22 Maret lazimnya diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Tahun ini, peringatan Hari Air membawa tema “Berbagi Air, Berbagi Peluang”. Tema ini, bisa jadi, dialamatkan untuk menjadi konsideran masyarakat bumi dalam mengelola air yang kian menipis ini. Masyarakat mestinya mampu membabat tapal batas geografis dalam mengelola air hingga alokasi air dapat dilakukan seadil-adilnya.

Pada konteks kekinian, air memang menjadi sumberdaya yang langka. Bahkan Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) memprediksi pada tahun 2030 kelak, hampir setengah penduduk dunia akan menempati daerah-daerah krisis air (BusinessWeek, Juli 2008). Air, sebagai sumberdaya, menggelandang realitas terbaru bahwa ia kini menjadi sumberdaya yang TIDAK terbarukan. Pemanasan global yang kian akut akhirnya mampu menguapkan realitas air di dunia macam demikian. Krisis air—benarlah—tinggal menunggu waktu saja.

Di Jakarta misalnya, metropolitan Indonesia ini boleh dibilang menuju sekarat air. Masyarakat di sini—terutama di kawasan padat—cukup sulit untuk mendapatkan air bersih. Masyarakat banyak yang dipaksa keadaan untuk mengonsumsi air yang berkualitas di bawah rata-rata. Saya mengalami sendiri hal tersebut. Di tempat kos yang saya tempati, air terkadang agak berwarna, atau mengeluarkan buih. Saya jelas terganggu, apalagi air sangat penting bagi kehidupan saya dan Anda tentunya. Kondisi ini—mungkin saja—menjadi malapetaka bagi umat manusia.

Lantas apa hubungan krisis air dengan blog ini?

Dalam marketing dikenal adagium, malapetakamu adalah rezeki-ku. Krisis air yang menimpa Jakarta dan—kelak—sebagian besar dunia, adalah malapetaka bagi umat manusia. Air yang notabene komoditas yang signifikan bagi manusia terancam lenyap dari muka bumi. Berbagai ekses potensial untuk muncul, konflik atau bahkan perang dunia memperebutkan air bisa saja hadir.

Bagi kita para marketing’s addicted, realitas itu justru mengabarkan satu sendi lain, peluang mengais rezeki. Adagium tadi mestinya menjadi konsideran kita dalam menikmati hidup sebagai seorang marketer.Dalam hal ini, saya kadang teringat pada para pedagang air keliling di Jakarta. Saya pikir mereka adalah contoh marketer yang baik. Mampu melihat keadaan (krisis air) untuk kemudian mengeksekusinya pada tataran penyediaan alat untuk mengatasi kebutuhan tersebut. Mereka cukup kreatif untuk beroleh fulus. Di tengah keadaan sekitar yang terjerembab malapetaka, mereka justru mampu mengubah malapetaka itu menjadi rezeki. Well done guys!

Fenomena ini, ternyata hadir juga di AS. Adalah T. Boone Pickens seorang kapitalis energi di sana menjadikan air sebagai komoditas. Menurut laporan BusinessWeek (Juli,2008), Pickens rela menggelontorkan investasi $100 juta untuk mengkomodifikasi air. Ia hendak mengkapitalisasi kawasan Roberts County yang kaya air untuk kemudian membentangkan pipa sebagai jalan menjual air dari kawasan tersebut ke Texas yang tingkat konsumsi airnya paling tinggi se-AS. Pickens memprediksi dalam beberapa tahun ke depan, dengan investasinya ini, ia akan meraup ratusan juta dollar per tahunnya.

Dua contoh—pedagang air keliling dan Pickens—ini bisa menjadi pelajaran penting bagaimana seorang marketer menciptakan bisnis yang benar-benar akurat dan tepat sesuai kebutuhan konsumen. Pedagang air mengabarkan kepada kita tentang pentingnya seorang marketer melihat kondisi sekitar dan bagaimana mengeksekusinya pada tataran pemenuhan kebutuhan.

Sementara itu Pickens mengabarkan kepada kita untuk selalu berpikir visioner dan one step ahead dibanding pesaing kita. Walaupun, tindak-tanduk Pickens dikecam sebagai tindakan menerabas akal sehat. Tapi, itu justru menjadi pijakan dalam melihat dunia yang semakin kompleks dan problematik ini. Dengan demikian, di tengah ekskalasi persaingan antar manusia yang semakin meningkat ini, malapetaka orang lain menjadi awal bagi kita untuk meraup rezeki yang berlimpah ruah. Karenanya, jangan segan untuk duduk di pinggir jalan, stasiun atau pasar, siapa tahu kita bisa mendapat ide untuk meraup rezeki berlimpah dari mereka. Dengan membuat penyalur pengemis, misalnya. Hehe….

Source Pics: Flickr
Read more

Etika Mengkapitalisasi

,

Kami ingin bertanya pada manusia yang (masih) beriman kepada Tuhan, hal apa yang membuat Anda tersinggung bukan kepalang? Bukannya kami sok tahu, sok pakar ramal atau tarot, karena jelas kami bukan pakar, tapi kami coba menebak apa jawaban yang ada di benak anda. Kami pikir jawabannya: Ketika Agama atau Kepercayaan—beserta simbol-simbolnya—yang Anda yakini dilecehkan, bukan begitu?

Kami yakin begitu. Tengoklah umat Budha yang geram bukan kepalang akan munculnya Budha’s Bar dan Restoran Buddha (menjual daging loh..). Padahal keyakinan teologis Buddha mengharamkan daging karena berkaitan dengan konsepsi reinkarnasi untuk mencapai moksa. Bagi umat Buddha ini jelas sebuah pelecehan simbol dan ajaran agama yang cukup akut. Tak heran demonstrasi hadir bergelombang di Jakarta, demi menuntut penggantian nama dan penanggalan simbol Buddha pada dua arena marketing tersebut.

Bagi kami, fenomena ini semakin menyiratkan perseteruan tanpa akhir antara marketing dan agama. Agama pada galibnya berusaha mewanti dan mengampanyekan hidup bersahaja sebagai ekses penghambaan spiritual kita pada Tuhan. Pada sudut lain, marketing justru mengampanyekan pentingnya konsumsi yang berujung pembentukan konsumerisme dalam masyarakat. Bahkan, pada titik yang ekstrem, marketing berusaha (dan berhasil) mengkapitalisasi simbol dan keyakinan spiritual manusia, seperti Buddha’s Bar contohnya.

Menyarunya marketing ke dalam simbol keagamaan, mestinya menjadi perhatian penting para marketer di seluruh dunia. Karena, hal ini menghasilkan dua mata pisau yang saling berkebalikan, keberhasilan atau menjadi bumerang. Arla Food misalnya, perusahaan mentega dan keju ini pada 2006 silam diboikot oleh salah satu pangsa pasarnya yang cukup besar(Asia Timur) karena salah satu iklannya memuat karikatur Nabi Muhammad. Jelas bagi masyarakat Asia Timur yang kebanyakan Muslim, Nabi Muhammad adalah sosok sakral yang dengan alasan apapun tidak boleh divisualisasi, apalagi dilecehkan. Arla Foods mungkin bertujuan menciptakan sensasi hingga akhirnya image produk mereka menancap di benak konsumen. Tapi yang terjadi justru sebaliknya, ia kehilangan 95 % pangsa pasar regional Asia Timur. Bahkan, ia mengalami kerugian sekitar $ 2 juta/hari hingga aktivitasnya di Asia Timur terhenti. What da hell!!

Arla Foods mengabarkan pada kita betapa rentannya menyaru pada simbol-simbol keagamaan. Benar ada bisnis yang berhasil, seperti ESQ-nya Ari Ginanjar. Tapi, kebanyakan justru menjadi bumerang bagi strategi marketing. Pada konteks Buddha’s Bar, ya kami tahu mungkin mereka hendak mencipta ekstase spiritualisme dalam usahanya dan atau kontroversi seperti Arla Foods lakukan. Ia memang berhasil mencipta kontroversi negeri ini. Menjadi headline dan dipikirkan secara riuh oleh komunitas dan otoritas keagamaan. Tapi, berpikirkah mereka bahwa mereka tidak sedang bertarung sendirian. Lawan yang setara bahkan dahsyat telah siap untuk menikam balik. Karena itulah, marketing pun mesti beretika untuk mengkapitalisasi apapun, apalagi agama.

Read more
 

Marketing Kami Copyright © 2011 -- Template created by O Pregador -- Powered by Blogger