


Tanggal 22 Maret lazimnya diperingati sebagai Hari Air Sedunia. Tahun ini, peringatan Hari Air membawa tema “Berbagi Air, Berbagi Peluang”. Tema ini, bisa jadi, dialamatkan untuk menjadi konsideran masyarakat bumi dalam mengelola air yang kian menipis ini. Masyarakat mestinya mampu membabat tapal batas geografis dalam mengelola air hingga alokasi air dapat dilakukan seadil-adilnya.
Pada konteks kekinian, air memang menjadi sumberdaya yang langka. Bahkan Organization for Economic Cooperation & Development (OECD) memprediksi pada tahun 2030 kelak, hampir setengah penduduk dunia akan menempati daerah-daerah krisis air (BusinessWeek, Juli 2008). Air, sebagai sumberdaya, menggelandang realitas terbaru bahwa ia kini menjadi sumberdaya yang TIDAK terbarukan. Pemanasan global yang kian akut akhirnya mampu menguapkan realitas air di dunia macam demikian. Krisis air—benarlah—tinggal menunggu waktu saja.
Di Jakarta misalnya, metropolitan Indonesia ini boleh dibilang menuju sekarat air. Masyarakat di sini—terutama di kawasan padat—cukup sulit untuk mendapatkan air bersih. Masyarakat banyak yang dipaksa keadaan untuk mengonsumsi air yang berkualitas di bawah rata-rata. Saya mengalami sendiri hal tersebut. Di tempat kos yang saya tempati, air terkadang agak berwarna, atau mengeluarkan buih. Saya jelas terganggu, apalagi air sangat penting bagi kehidupan saya dan Anda tentunya. Kondisi ini—mungkin saja—menjadi malapetaka bagi umat manusia.
Lantas apa hubungan krisis air dengan blog ini?
Dalam marketing dikenal adagium, malapetakamu adalah rezeki-ku. Krisis air yang menimpa Jakarta dan—kelak—sebagian besar dunia, adalah malapetaka bagi umat manusia. Air yang notabene komoditas yang signifikan bagi manusia terancam lenyap dari muka bumi. Berbagai ekses potensial untuk muncul, konflik atau bahkan perang dunia memperebutkan air bisa saja hadir.
Bagi kita para marketing’s addicted, realitas itu justru mengabarkan satu sendi lain, peluang mengais rezeki. Adagium tadi mestinya menjadi konsideran kita dalam menikmati hidup sebagai seorang marketer.Dalam hal ini, saya kadang teringat pada para pedagang air keliling di Jakarta. Saya pikir mereka adalah contoh marketer yang baik. Mampu melihat keadaan (krisis air) untuk kemudian mengeksekusinya pada tataran penyediaan alat untuk mengatasi kebutuhan tersebut. Mereka cukup kreatif untuk beroleh fulus. Di tengah keadaan sekitar yang terjerembab malapetaka, mereka justru mampu mengubah malapetaka itu menjadi rezeki. Well done guys!
Fenomena ini, ternyata hadir juga di AS. Adalah T. Boone Pickens seorang kapitalis energi di sana menjadikan air sebagai komoditas. Menurut laporan BusinessWeek (Juli,2008), Pickens rela menggelontorkan investasi $100 juta untuk mengkomodifikasi air. Ia hendak mengkapitalisasi kawasan Roberts County yang kaya air untuk kemudian membentangkan pipa sebagai jalan menjual air dari kawasan tersebut ke Texas yang tingkat konsumsi airnya paling tinggi se-AS. Pickens memprediksi dalam beberapa tahun ke depan, dengan investasinya ini, ia akan meraup ratusan juta dollar per tahunnya.
Dua contoh—pedagang air keliling dan Pickens—ini bisa menjadi pelajaran penting bagaimana seorang marketer menciptakan bisnis yang benar-benar akurat dan tepat sesuai kebutuhan konsumen. Pedagang air mengabarkan kepada kita tentang pentingnya seorang marketer melihat kondisi sekitar dan bagaimana mengeksekusinya pada tataran pemenuhan kebutuhan.
Sementara itu Pickens mengabarkan kepada kita untuk selalu berpikir visioner dan one step ahead dibanding pesaing kita. Walaupun, tindak-tanduk Pickens dikecam sebagai tindakan menerabas akal sehat. Tapi, itu justru menjadi pijakan dalam melihat dunia yang semakin kompleks dan problematik ini. Dengan demikian, di tengah ekskalasi persaingan antar manusia yang semakin meningkat ini, malapetaka orang lain menjadi awal bagi kita untuk meraup rezeki yang berlimpah ruah. Karenanya, jangan segan untuk duduk di pinggir jalan, stasiun atau pasar, siapa tahu kita bisa mendapat ide untuk meraup rezeki berlimpah dari mereka. Dengan membuat penyalur pengemis, misalnya. Hehe….
Source Pics: Flickr